Minggu, 14 April 2013

NASEHAT KEPADA SAUDARAKU MUSLIMAT


Saudariku muslimah yang dimuliakan Allah…
Sesungguhnya syaithan dan bala tentaranya senantiasa berusaha untuk menyesatkan hamba-hamba Allah agar terjerumus ke dalam jurang neraka. Iblis yang merupakan syaithan dari bangsa jin telah bersumpah dihadapan Allah ‘azza wajalla akan menyesatkan seluruh manusia. Allahsubhanahu wa ta’ala berfirman mengenai perkataan dan sumpah Iblis tersebut,

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
“Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,”” (Qs. Shaad : 82)
Sumpah yang telah diucapkan oleh Iblis tersebut, kemudian benar-benar di realisasikannya. Maka iblis pun dengan segenap kesungguhannya dan juga bala tentaranya berusaha untuk menyesatkan umat manusia, khususnya umat Islam dari jalan kebenaran. Diantara caranya yaitu, iblis berusaha dengan sekuat tenaga untuk menggoda manusia agar aurat mereka terbuka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَيَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلاَ مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَـذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
(Dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim." (Qs. Al-A’raaf : 19)
Akan tetapi Iblis la’natullah berusaha menggoda Adam ‘alaihis salam dan istrinya supaya Adam memakan buah tersebut. Yang hasilnya adalah aurat mereka pun terbuka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِن سَوْءَاتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَـذِهِ الشَّجَرَةِ إِلاَّ أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)." (Qs. Al-A’raaf : 20)

Itulah salah satu tipu daya iblis la’natullah untuk menjerumuskan manusia dari dulu kala, yaitu bapaknya anak manusia. Bahkan sampai detik ini pun, Iblis terus berusaha agar anak Adam membuka auratnya. Kenapa demikian? Karena kita sadari betul, betapa besar akibat buruk dari membuka aurat, terutama dari kalangan wanita. Maka dari itulah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwasanya kehancuran orang-orang ahlul kitab yaitu Yahudi, tidak lain karena fitnah wanita. Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَاتَّقُوا الدُّنيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
“Berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah pada kaum wanita, karena sesungguhnya fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah karena wanita.” 
Oleh karena itu saudariku, orang-orang Yahudi yang telah rusak moralnya dengan sebab wanita, mereka akan terus berupaya mengeluarkan para wanita dalam keadaan memperlihatkan kecantikan dan aurat mereka, dengan Miss Universalnya atau yang lainnya. Yang ternyata ini pun di ikuti oleh para muslima, sehingga menimbulkan kerusakan akhlak, moralitas, memperburuk citra islam, dan sedikitnya rasa malu dari wanita tersebut. Semua ini juga tidak lain agar tersebarsyahwat dan berakibat dapat menghancurkan para pemuda muslim. Sehingga pada waktu itu, banyak pemuda kaum muslimin yang kemudian lupa kepada Allah, lupa kepada kehidupan akhirat, bahkan lupa untuk memperjuangkan agamanya.

Banyaknya pakaian-pakaian yang mempertontonkan aurat, dianggap sebagai sesuatu yang modern. Kita lihat di media televisi maupun media yang lainnya, banyak acara yang memajangaurat-aurat. Mereka menganggap bahwa inilah masyarakat modern. Bahwa inilah kemajuan. Bahkan mereka menganggap bahwasanya jilbab dan menutup aurat itu adalah suatu kemunduran.

Oleh karena itu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pun telah mengabarkan tentang apa yang akan terjadi pada akhir zaman. Bahwasanya akan muncul wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” 

Imam An-Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ,
Makna pertama : wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.
Makna kedua : wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah.
Makna ketiga : wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, dan sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud denga wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
Makna keempat : wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya.Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. 

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauziy. Beliau mengatakan bahwa makna كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ ada tiga :
Pertama: wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang.
Kedua: wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang.
Ketiga: wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur kepada-Nya. 

Kesimpulannya adalah كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ dapat kita maknakan: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga tampaklah tubuh yang ada di dalam pakaian tersebut dan wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup. Dan juga para wanita yang menutup auratnya, tapi dengan pakaian yang ketat, sehingga tampaklah lekuk tubuhnya. Wal iyyadzubillaah…

Hadits diatas juga merupakan tanda mukjizat kenabian. Lihatlah dan buktikan! Bahwasanya kedua golongan ini sudah ada di zaman kita sekarang. Hadits ini sangat mencela dua golongan tersebut. Kerusakan seperti ini tidak muncul di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sucinya zaman beliau, namun kerusakan ini baru terjadi setelah masa beliau hidup. 

Dan sekarang kita lihat fenomena yang menyedihkan ini. Dimana wanita sangat bangga memperlihatkan aurat-aurat mereka. Meraka tidak perduli dan mereka pun tidak malu. Mereka tidak malu kepada Allah dan mereka tidak malu kepada manusia. Bahkan rasa malu itu pun akhirnya telah dicabut oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Padahal wanita seharusnya lebih pemalu ketimbang lelaki. Namun kita dapati sekarang, bahwa wanita lebih berani dan agresif ketimbang lelaki, maka dampaknya mereka berbuat “semau gue”. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.” 

Sebagian ulama menafsirkan hadirts diatas, bahwa perintah Rasulullah tersebut, perintah yang sifatnya adalah penghinaan, bukan perintah agar di lakukan. Artinya bahwa orang yang tidak punya malu maka dia akan berbuat “semau gue”.

Ini lah musibah yang besar dan fitnah yang bergelombang yang datang dan menerpa kita dengan munculnya wanita-wanita yang enggan menutup auratnya. Wanita yang berpakaian tapi telanjang, bahkan berbangga, sehingga akhirnya memfitnah para pemuda dalam meniti jalan Allahsubhanahu wa ta’ala.

Saudariku muslimah…

Ketahuilah, setiap muslim yang ada didalam hatinya keimanan dan kecemburuan terhadap agamanya, ia tidak akan ridha dengan keadaan seperti ini. Maka ia pun berusaha dan berfikir, bagaimana caranya agar anaknya, tetangganya, saudaranya dapat menutup aurat. Hal ini agar mereka di ridhai oleh Allah dan terhindar dari adzab Allah. Karena apabila wanita telah memperlihatkan auratnya, maka para pemuda pun mengikuti syahwatnya, kemudian akhirnya tersebarlah zina. Dan dengan zina itulah kemudian tersebar bencana. Berbagai macam bencana dan malapetaka terus datang akibat perbuatan-perbuatan buruk dan keji, salah satunya adalah perbuatan tidak menutup aurat.
Saudariku muslimah…

Dimanakah lagi keimanan? Dimanakah lagi kecemburuan? Dimanakah lagi marah karena Allah dan benci karena Allah? Seakan-akan keimanan itu telah pudar dari hati-hati para hambaNya. Ataukah kehidupan dunia telah menghiasi dan mendominasi mereka? Sehingga ia lupa kepada Allah rabbul ‘alamin. Ingatlah kisah nabi Adam ‘alaihis salam ketika Allah usir dari surga dan Allah turunkan dari surga karena memakan buah yang dilarang untuk di makan. Maka akibatnya terbuka aurat mereka.

Dan kita lihat fenomena yang ada sekarang. Banyak hamba-hamba yang tidak lagi perduli terhadap anaknya yang mempertontonkan aurat mereka. Banyak hamba-hamba yang tidak perduli lagi terhadap istrinya yang memperlihatkan aurat mereka. Tidakkah mereka tahu dan sadar?Bahwasanya seorang suami yang tidak mempunyai rasa kecemburuan, ia termasuk dayyuts 

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tiga golongan manusia yang tidak akan dilihat oleh Allah (dengan pandangan kasih sayang) pada hari kiamat nanti, yaitu: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan ad-dayyuts, yaitu kepala rumah tangga membiarkan kemungkaran dalam rumah tangganya.” 

Ketahuilah dan sadarilah! Sesungguhnya wanita adalah parameter baiknya suatu bangsa. Baiknya wanita adalah tanda kebaikan suatu bangsa. Dan hancurnya wanita adalah merupakan kehancuran suatu bangsa. Maka apabila wanita itu mempertontonkan auratnya dan apabila wanita itu sudah dicabut rasa malunya, pertanda bangsa itu akan hancur dan binasa. Kenapa? Karena di rahim wanitalah anak bangsa dikandung. Kemudian dari payudaranya lah mengalir makanan untuk menyambung hidup anak tersebut. Dengan kasih sayangnya lah mereka mulai hari-harinya. Wanitalah guru pertama dan utama bagi mereka. Maka apa jadinya kalau mereka hidup dibawah asuhan dan pendidikan wanita yang tidak punya rasa malu, dan senantiasa mempertontonkanauratnya kepada orang-orang yang bukan mahramnya, tentu saja mereka tidak akan jauh dari induknya. Padahal seluruh anak adam yang lahir ke dunia adalah suci. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak yang dilahirkan, dilahirkan di atas fitrah (islam). Kedua ibu bapaknyalah yang menjadikan dia sebagai Yahudi atau Nashrani atau Majusi.”

Saudariku muslimah…

Marilah kita mencontoh para shahabiyah. Betapa ketundukan mereka kepada Allah yang sangat luar biasa. Ketika Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat hijab, dan ketika Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan jilbab, mereka segera mengambil tirai atau gorden-gorden rumahnya untuk menutup aurat nya. Mereka tidak pernah berkata “panas”. Mereka pun tidak pernah berkata “bagaimana dan mengapa?.” Segera mereka berkata sami’na wa atha’na, kami mendengar dan kami ta’at.

Dari Shofiyah binti Syaibah berkata: “Ketika kami bersama Aisyah radhiyallahu anha, beliau berkata: “Saya teringat akan wanita-wanita Quraisy dan keutamaan mereka.” Aisyah berkata: “Sesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki keutamaan, dan demi Allah, saya tidak melihat wanita yang lebih percaya kepada kitab Allah dan lebih meyakini ayat-ayat-Nya melebihi wanita-wanita Anshor. Ketika turun kepada mereka ayat: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (Q.S. An-Nur: 31) Maka para suami segera mendatangi istri-istri mereka dan membacakan apa yang diturunkan Allah kepada mereka. Mereka membacakan ayat itu kepada istri, anak wanita, saudara wanita dan kaum kerabatnya. Dan tidak seorangpun di antara wanita itu kecuali segera berdiri mengambil kain gorden (tirai) dan menutupi kepala dan wajahnya, karena percaya dan iman kepada apa yang diturunkan Allah dalam kitab-Nya. Sehingga mereka (berjalan) di belakang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dengan kain penutup seakan-akan di atas kepalanya terdapat burung gagak.” 

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيم
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab : 59)

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan berkata: “Allah Ta’ala menyuruh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam agar dia menyuruh wanita-wanita mukmin , istri-istri ,dan anak-anak perempuan beliau agar mengulurkan jilbab keseluruh tubuh mereka. Sebab cara berpakaian yang demikian membedakan mereka dari kaum wanita jahiliah dan budak-budak perempuan.”

Tatkala ayat di atas turun, para wanita Anshar pun bila keluar rumah seakan-akan di atas kepala mereka terdapat burung-burung gagak karena pakaian (jilbab hitam) yang mereka kenakan. 

Sekarang ini, sedikit sekali orang-orang yang perduli terhadap agamanya? Apakah kita ridhawanita-wanita muslimah dicabik-cabik kehormatannya, dan dijadikan alat pemuas nafsu para lelaki hidung belang serta menjadi mainan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Bahkan menjadi boneka-boneka orang-orang Yahudi dan Nasrani untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Tidak!!!

Dan apakah kita tidak takut dengan ancaman Allah yang telah diwahyukan kepada Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallam dimana Rasulullah bersabda,
"Artinya : Sesungguhnya bila manusia telah melihat kemungkaran lantas tidak mengingkarinya, maka telah dekatklah Allah meratakan adzabNya terhadap mereka."Na’udzubillaahi mindzalik…

Kita kaum muslimin harus mempunyai rasa kecemburuan dalam masalah ini. Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menampakkan kepada kita yang benar itu benar dan memberi taufik kepada kita untuk mengikutinya. Dan menunjukkan yang salah itu salah, lalu member taufik kepada kita untuk menjauhinya. Serta memberi hidayah kepada kita sirathal mustaqim. Kita pun juga harus terus-menerus memohon kepada Allah agar Allah subhanahu wa ta’ala memberikan hidayah kepada para wanita muslimat. Agar mereka menutup auratnya, agar mereka kembali kepada Allah dan agar mereka bertaqwa kepada Allah. Karena hanya kepadaNya lah kita semua akan kembali. Akhir kalam…

والله الموفّق إلى أقوم الطريق
وصلى الله وسلم على نبينا وعلى آله وأصحابه ومن اتّبعهم بإحسان الى يوم الدين

Sabtu, 13 April 2013

YAHUDI DALAM PERSPEKTIF ISLAM


Yahudi Dalam Perspektif Islam, Mensikapi Konflik Yahudi-Islam Kontemporer


Diposting : Abu Astri

 “Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membawa mereka ke agama Islam, Kristen dan Yahudi” (Buchori: 1270). Dengan kata lain pembentukan karakter dan sifat manusia sangat ditentukan oleh lingkungan yang melingkupinya dan bukan oleh faktor keturunan. Berdasarkan tesis tersebut sifat dan karakter sebuah bangsa harus dilihat sebagai naluri muktasab yang terbentuk oleh proses interaksi manusia dengan sesamanya atau dengan alam. Sebelum membahas sikap Islam terhadap bangsa Yahudi perlu kiranya dibahas terlebih dahulu sifat dan watak bangsa Yahudi yang melatar belakangi permusuhan mereka dengan umat Islam.
Ideologi Rasis, Chauvinis Dan Ekspansif Bangsa Yahudi
Doktrin paling berpengaruh dan tetap dipegang teguh oleh bangsa Yahudi adalah doktrin “bangsa terpilih” dan “tanah yang dijanjikan”. Doktrin “bangsa terpilih” juga disinggung Qur’an: “Hai bani Israil ingatlah akan nikmatKu yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan bahwa Aku telah melebihkan kamu atas segala umat”, (QS;Al-Baqarah:47). Tanpa harus meminjam penafsiran subyektif cukuplah dipahami bahwa ayat ini mengakui keyakinan bangsa Yahudi tentang “bangsa terpilih”. Doktrin yang sangat kuat diyakini bangsa Yahudi ini telah menumbuhkan eksklusifitas. Bangsa Yahudi hidup di getho getho yang terpisah dari masyarakat dimana mereka tinggal. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari percampuran dengan masyarakat lain. Sikap eksklusif bangsa Yahudi boleh jadi menimbulkan kebencian pada bangsa lain. Dan ini dirasakan orang orang Yahudi yang menyadari bahwa mereka tidak disukai masyarakat setempat. Theodore Hertzel, pendiri Zionisme, mengatakan bahwa rasa permusuhan terhadap Yahudi adalah watak alami manusia. Kondisi semacam ini dialami orang orang Yahudi di negara manapun, termasuk di negara negara maju. Bahkan rasisme Yahudi harus berbenturan dengan rasisme Jerman yang mengakibatkan terjadinya pembantaian Yahudi. Perlu dicatat bahwa eksklusifitas yang lahir dari doktrin “bangsa terpilih” telah menciptakan lingkungan eksklusif yang homogen. Karenanya tidak terlalu salah jika pendirian dan sikap para pemimpin politik Israel nyaris sama. Disamping itu doktrin “bangsa terpilih” membuat agama Yahudi identik dengan bangsa Yahudi; satu satunya agama Semit yang mayoritas pemeluknya adalah bangsa tertentu.
Doktrin “tanah yang dijanjikan” juga disinggung Qur’an: “Hai kaumku masuklah ke tanah suci yang telah dijanjikan Allah bagimu” (QS; al-Ma’idah:21). Dalam kisah itu bani Israil membantah perintah nabi Musa karena takut menghadapi penduduk Palestina, bahkan bani Israil meminta Musa dan Tuhannya berangkat sendiri memerangi penduduk Palestina. Akibat sikap pengecutnya, bani Israil harus hidup menderita di padang Taih selama empat puluh tahun hanya dengan makanan Manna dan Salwa. Sepeninggal Musa, Yusak menggerakkan bani Israil yang telah berkembang biak selama hidup di padang Taih untuk menyerbu Palestina dan menguasainya. Patut dicatat bahwa doktrin “tanah yang dijanjikan”selama berabad abad menjadi obsesi seluruh bangsa Yahudi yang tercerai berai tanpa tanah air sejak terusir dari tanah Arab pada masa khalifah Umar.
Perjalanan panjang sejarah bangsa Yahudi memang penuh dengan gejolak dan permusuhan dengan bangsa lain. Sejak Yusak, salah satu nabi bangsa Yahudi, merebut tanah Palestina, tercatat tiga kali bangsa Yahudi memiliki kerajaan yang dipimpin oleh keturunan bani Israil, yaitu raja Saul, raja Daud dan raja Sulaiman. Selebihnya, berturut turut bangsa Israil ditaklukkan bangsa bangsa lain. Bangsa Yahudi pernah dikuasi bangsa Sargon dari Assyiria yang memusnahkan 10 suku Israil, dijajah Nebukandnezar dari Babilonia yang menghancurkan Jeurssalem dan biara Sulaiman di dataran tinggi Zion; ditaklukkan Cyrus the Great dari dinasti Achaemenids yang membebaskan dua suku Israil yang ditwan Babilonia dan membangun kembali Biara Sulaiman, ditaklukkan Macedonia, dikuasai dinasti Ptoleme dari Mesir, dikuasai dinasti Sleucids dari Yunani, dibawah penaklukkan Romawi, terusir dari Palestina oleh panglima Titus, terusir dari madinah oleh Nabi Muhammad, dan terusir dari tanah Arab oleh khalifah Umar. Dan tidak jarang bangsa Israil mendapat tekanan dan penyiksaan fisik dari para penguasa, seperti yang terjadi dalam kisah Firaun dan Bani Israil di Mesir, kisah perjalanan putera putera Ya’kub ke kerajaan Mesir dan pembantaian Yahudi oleh Nazi.
Pengalaman getir yang dialami bangsa Yahudi sejak penjajahan Firaun hingga pembantaian Nazi menanamkan ambisi kekuasaan pada bangsa Yahudi, bahkan dalam menyikapi nabi nabi mereka. Banyak nabi nabi dibunuh karena dianggap tidak memberikan harapan bagi bangsa Yahudi dalam mencapai kejayaan. Bahkan dikisahkan bahwa setelah kekalahan beruntun dan penderitaan yang dialami bangsa Yahudi akibat penindasan dan penyiksaan fisik bangsa lain, mereka mengharapkan datangnya seorang “juru selamat”. Lalu datanglah Isa yang mengabarkan agama baru untuk menyelamatkan umat dari kehancuran. Tetapi bangsa Yahudi menolak mengakui kenabian dan agama yang dibawanya, bahkan berusaha membunuhnya. Bangsa Yahudi menganggap bahwa Isa hanya penyelamat spiritual, bukan pemimpin yang akan membawa bangsa Yahudi berkuasa. Agenda Zionisme sendiri juga mencanangkan sebuah negara Israel Raya yang wilayahnya meliputi hampir seluruh dunia Arab. Dan kini, bangsa Yahudi telah berhasil mewujudkan impiannya untuk mendirikan Negara Israel meskipun belum mencakup seluruh wilayah yang diagendakan Zionisme.
Jadi kedua doktrin diatas yang kemudian dikembangkan sebagai ideologi rasis, chauvinis dan ekspansif inilah yang tampaknya mewarnai perjalanan sejarah permusuhan Yahudi dengan bangsa bangsa lain, terutama umat Islam.
Yahudi Kriteria Sebagai Musuh Islam
Secara garis keturunan sebenarnya bangsa Yahudi lebih dekat dengan bangsa Arab-Islam ketimbang bangsa Eropa-Kristen. Sebab bangsa Yahudi dan Arab-Islam sama sama berasal dari rumpun Semit. Tetapi ancaman Yahudi terhadap Islam lebih besar dibanding ancaman bangsa lain sepserti disebutkan dalam Qur’an, “Sesungguhnya kamu dapati orang orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang orang yang beriman ialah orang orang Yahudi dan orang orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang orang beriman adalah orang orang yang berkata ‘sesungguhnya kami ini orang Nasrani’. Yang demikian itu disebabkan karena diantara mereka itu terdapat pendeta dan rahib rahib juga karena mereka sesungguhnya tidak menyombongkan diri.” (QS, Al-Maidah:82). Permusuhan yang diperlihatkan bangsa Yahudi terhadap Islam sebenarnya sama dengan permusuhan Yahudi terhadap bangsa lain. Permusuhan itu sama sama dilatarbelakangi oleh faktor “menyombongkan diri” yang personifikasinya dalam bangsa Yahudi adalah ideologi rasis. Orang orang Yahudi tidak dapat menerima agama yang dikabarkan Nabi Muhammad karena Nabi tidak berasal dari keturunan bani Israil. Hal ini menunjukkan bahwa potensi permusuhan terhadap Islam bersumber dari kesombongan dan rasisme intelektual yang tidak dapat menerima kebenaran dari golongan lain. Atau dengan kata lain musuh Islam lebih dilihat dari sudut kriteria ketimbang generalisasi golongan.
Paling tidak ada tiga hal yang mendukung tesis ini. Pertama, orang orang Nasrani yang dalam ayat di atas disebut lebih bersahabat ternyata selama berabad abad menjadi musuh bebuyutan Islam juga dengan latarbelakang “menyombongkan diri” seperti terlihat dalam Perang Salib. Kedua, Abdullah bin Salam, seorang rahib Yahudi dan putera seorang rahib pula, demikian pula beberapa orang Yahudi lain, ternyata dengan tulus memeluk agama Islam. Ketiga dalam Qur’an disebutkan, “Sesungguhnya orang orang mu’min, orang orang Yahudi, orang orang Nasrani, dan orang orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan mereka tidak bersedih hati”, (QS, Al-Baqarah:62).
Dengan demikian ancaman terhadap Islam bersumber dari Yahudi dan Musyrik dalam pengertian orang orang yang memiliki kriteria rasis, chauvinis dan ekspansif, bukan Yahudi dan Musyrik sebagai golongan dan individu.
Realitas Obyektif Yahudi Dan Sikap Kita
Setelah getho getho Yahudi di kotakota di Eropa mulai runtuh, terutama setelah revolusi Perancis 1789, orang orang Yahudi mulai merambah dunia industri dan perbankan. Lahirlah bankir bankir dan industrialis Yahudi di Jerman, Perancis Inggris dan Rusia, seperti keluarga Rotschilid di Eropa dan keluarga Morgan di Amerika. Mereka menguasai keuangan negara negara itu melalui dunia perbankan yang berada di bawah kekuasaan bankir bankir Yahudi. Dan bank bank tersebut dimanfaatkan untuk mempengaruhi kebijakan politik negara negara tersebut. Pada Perang Dunia I Inggris berhasil merebut Palestina dari kesultanan Turki. Dan  Inggris yang mengalami kesulitan keuangan pasca Perang Dunia I masuk dalam perangkap Yahudi yang mencoba mempengaruhi kebijakan politik Inggris untuk dapat melapangkan jalan bagi masuknya bangsa Yahudi ke tanah Palestina. Semula Inggris menawarkan imbalan tanah di Uganda, tetapi Yahudi memilih Palestina. Lalu lahirlah deklarasi Balford yang menjanjikan home rule untuk bangsa Yahudi di Palestina. Dalam waktu singkat bangsa Yahudi yang semula berjumlah enam ratus ribu jiwa diantara belasan juta bangsa Arab meningkat sampai tujuh juta jiwa. Dengan leluasa orang orang Yahudi masuk ke Palestina dan mengusir orang orang Arab dari rumah mereka. Tidak terhitung lagi berapa keluarga bangsa Palestina yang akhirnya harus tinggal di kamp kamp di padang pasir dan untuk waktu sekian lama tidak mendapatkan perhatian dari dunia internasional. Dan setelah Inggris angkat kaki dari Palestina, Bangsa Yahudi memprokamirkan Negara Israel.
Sejak itu bangsa bangsa Arab disibukkan dengan konflik Arab-Israel yang berkepanjangan; perebutan wilayah, konfilk perbatasan, persoalan air dan lain-lain. Bahkan agenda konfrensi Liga Arab lebih banyak didominasi persoalan Palestina. Sesuai dengan agenda zionisme, pada perang tahun 1967 Israel menginvasi wilayah wilayah Arab yang berbatasan dengan Israel. Dan di dalam negeri, Israel melakukan diskriminasi dan penindasan terhadap bangsa Palestina. Perundingan damai yang diupayakan berbagai pihak berjalan sangat lambat bahkan kerapkali menemui jalan buntu. Situasi konflik di kawasan Timur Tengah diperburuk oleh sikap keras kepala Israel yang tidak sungguh sungguh menginginkan penyelesaian yang saling menguntungkan. Bahkan resolusi DK PBB yang mengharuskan Israel mengembalikan wilayah wilayah Arab yang direbut, tidak pernah ditaati. Timur Tengah kini menjadi kawasan konflik dan Palestina menjadi tempat kejahatan kemanusiaan yang paling mengerikan.
Secara normatif Islam mengajarkan jalan damai sebagai pilihan utama. Hal ini pernah dicontohkan Nabi ketika membuat kesepakatan hidup berdampingan damai dengan orang orang Yahudi Madinah yang tertuang dalam Piagam Madinah. Salah satu pasal dalam Piagam tersebut berbunyi, “Jika Muhammad dan kawan kawan diserang musuh, maka Yahudi membela Muhammad dan kawan kawan, dan jika Yahudi diserang musuh maka Muhammad dan kawan kawan membela Yahudi”. Ketika Yahudi Madinah mengkhianati perjanjian, Nabi mengusir mereka dari Madinah. Dalam Qur’an juga disebutkan bagaimana sikap kita terhadap orang orang yang tidak memerangi kita, “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang orang yang memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berbuat adil”, (QS, Al-Mumtahinah:8). Tetapi jika jalan damai tidak mungkin diupayakan maka permusuhan menjadi pilihan yang tak terelakkan. Dan jika orang lain memulai perang dengan kita, maka perang adalah jalan yang harus ditempuh. Firman Allah, “Dan perangilah di jalan Allah orang orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang melampui batas”, (QS, Al-Baqarah:191).
Melihat peta konflik yang ada, tampaknya tidak ada yang lebih mendesak dibantu ketimbang umat Islam di negara negara Arab dan khususnya di Palestina. Dan ironisnya permusuhan dan kontak senjata yang sudah menjadi pemandangan sehari hari kurang mendapatkan perhatian kita. Isu kemerdekaan Palestina dan merebut kembali tanah tanah Arab yang dikuasai Israel kurang menggugah minat perjuangan Islam kita. Kita lebih asyik masyuk dengan hal hal spekulatif dan terhadap apa yang sudah jelas dan nyata di depan mata, kita malah tidak mengambil sikap.
Perang melawan musuh Islam adalah suatu keniscayaan setelah upaya damai tidak dapat ditempuh. Tetapi, mengikuti sunnah Rasul, perang tidak mungkin hanya mengandalkan keyakinan akan pertolongan Allah. Disamping keyakinan, kita juga harus berbekal pengetahuan. Pertolongan Allah tidak datang begitu saja tanpa uapaya manusia. Lima puluh tahun lebih Israel mengangkangi negara negara Arab-Islam. Dari segi kuantitas mereka jauh lebih kecil dibandingkan negara negara Arab-Islam, tetapi dari segi kualitas mereka jauh lebih canggih. Dan yang lebih patut diperhatikan adalah bahwa keberhasilan Yahudi menguasai Palestina didahului dengan masa penguasaan tekonologi dan ekonomi. Begitu juga keberhasilan Kristen menundukkan kesultanan Turki-Islam didahului dengan kemajuan peradabannya.

Jumat, 08 Maret 2013

STRATEGI KAUM PAGAN MENUJU THE NEW WORLD ORDER


Strategi Kaum Pagan Menuju The New World Order 



DIPOSTING  : Abu Astri



Illuminati modern lahir di Bavaria pada tahun 1773, tiga tahun sebelum para tokoh Mason menandatangani piagam kemerdekaan Amerika Serikat. Sebelum Illuminati ‘lahir’, gerakan paganis bernama Freemasonry telah dahulu ada di Eropa dan berkembang dengan pesat di sana. Nyaris semua negara dan kerajaan di Eropa tersentuh oleh gerakan Freemason yang lahir di Skotlandia pada sekitar tahun 1314-an.Para tetua pagan Yahudi seperti Rotschild melihat bahwa strategi mereka akan bisa lebih efektif dan cepat tercapai bila Illuminati dan Freemasonry bersatu. Sebab itu, pada tahun 1780, Baron Franz Friedrich Knigge direkrut menjadi anggota Illuminati dan dengan cepat menjadi salah satu tokoh penting Illuminati Eropa. Sebelumnya, Knigge ini merupakan salah satu tokoh sentral Freemasonry Eropa. Atas usahanya inilah, keduanya bias dipersatukan dan menjadi organisasi klandestine okultis yang begitu efektif, tidak saja di Eropa namun menggapai daratan Amerika dan lainnya.
Penyatuan Illuminati dan Freemasonry “diresmikan” dalam Kongres Wilhelmsbad pada 29 Agustus 1782 di mana Adam Weishaupt dan Knigge memimpin kongres tersebut. Semua yang hadir disumpah untuk tidak membocorkan kepada siapa pun, termasuk kepada anggota keluarga terdekat, apa saja yang terjadi dan diputuskan dalam pertemuan rahasia tersebut.
Comte de Vireu, seorang Masonik dari Lodge du Martinist di Lyons, Perancis Selatan—sebuah wilayah yang kental dengan nuansa Esoteris dan gerejanya memuja Yohanes sebagai Sang Kristus serta Maria Magdalena sebagai The Illuminatrix (Yang Tercerahkan), ikut hadir dalam Kongres di Wilhelmsbad. Sepulangnya dari acara, dia ditanya oleh isterinya tentang apa saja yang dibahas dalam pertemuan.
Terikat dengan sumpah setia, dan tentu saja ancamannya, Comte de Virieu hanya menyatakan bahwa apa yang terjadi dalam kongres sungguh-sungguh mengerikan. “Semua yang terjadi, adalah jauh lebih serius dari apa yang pernah kalian bayangkan selama ini. Konspirasi yang disusun telah benar-benar dirancang dengan sangat matang, sistematis, dan penuh dengan kejutan. Banyak orang penting terlibat dan tentunya dana yang disediakan juga tidak terbatas. Saya berkeyakinan, seluruh kerajaan dan gereja di Eropa ini tidak akan mampu membendung konspirasi tersebut. Ini benar-benar menakutkan, ” ungkapnya.
Atas desakan isterinya dan juga sejumlah kolega, akhirnya de Virieu menyatakan keluar dari perkumpulan.
Dengan sangat licin, Illuminati yang telah bersatu dengan Freemasonry terus bergerak. Mereka berada di belakang setiap revolusi, peperangan, dan peristiwa besar dunia. Nyaris semua pergantian penguasa di sejumlah negeri besar Eropa dan Amerika tidak lepas dari tangan kotor mereka.



Menundukkan Tiga Agama Besar
Satu hal yang jarang diketahui umum, gerakan paganis Yahudiyang juga disebut sebagai kaum Talmudian ini merupakan gerakan untuk menghancurkan semua agama langit. Taurat Musamereka ganti dengan TalmudAjaran Nabi Isa a.sdikotori dengan tangan Paulus, Yahudi dari Tarsus; dan ke dalam Islam mereka menyusupkan ajaran-ajaran Israiliyyat dan menyusupkan banyak hadits palsu dan mengatur beberapa konspirasi pemberangusan sejarah-sejarah Islam.
Mereka ini memiliki dendam kesumat terhadap Gereja yang telah menumpas para tetua mereka pada tahun 1307. Sebab itu mereka berupaya agar Gereja bisa ditundukkan dan menjadi pelayan kepentingan mereka. Salah satu bukti adalah surat balasan dari Rabi Yahudi di Konstantinopel kepada warga Yahudi yang tinggal di Arles, Perancis, yang menyatakan, “Jadilah kamu pemeluk Kristen, namun tetaplah pelihara Talmud di dalam hatimu. Agar kamu bisa menghancurkan mereka dari dalam…
Konspirasi mereka tetap berjalan dengan penuh kerahasiaan. Satu persatu negeri-negeri besar jatuh dalam cengkeraman mereka. Dari daratan Eropa, mereka menjangkau Amerika, dan juga seluruh dunia. Sejarah dunia yang kita kenal sekarang merupakan hasil kerja mereka. Hanya saja, sejarah resmi tidak pernah mencatat bahwa semua ini merupakan hasil dari kerja keras mereka, karena industri penulisan dunia pun dimiliki oleh jaringan mereka.
Tulisan bagian empat akan membahas konspirasi mereka di abad ke-20, di mana mereka berusaha menaklukkan dunia lewat peperangan dan pendirian lembaga-lembaga internasional seperti PBB, World Bank, dan sejenisnya. Salah satu program PBB yang akan dibahas nanti adalah tentang Codex Alimentarius, sebuah program pengendalian populasi manusia di mana Rockefeller menjadi salah satu penggeraknya. 

Rabu, 16 Januari 2013

AKHIR KONSPIRASI


Akhir Sebuah Kejelasan Konspirasi Yahudi

Diposting  : Abu Astri

zionism-boshevism
"Kita bahkan tidak dapat mengetahui bencana tanpa melihatnya dari sudut pandang "politik yang tidak benar." Hal itu membuat kita nostalgia terhadap laporan singkat yang semarak 90 tahun lalu ketika media utama masih menyebutnya sebagai isu yang paling mendesak sepanjang masa."
Setelah berakhirnya Revolusi Bolshevik, bangsa-bangsa yang beragama Kristen terbangunkan dari tidur mereka dan mengakui bahwa "Konspirasi Yahudi" bukan sekedar bagian dari imajinasi fanatik akan tetapi lebih merupakan sebuah kunci untuk memahami kondisi manusia.
Sejarah merupakan produk dari sebuah rencana jangka panjang okult yang direkayasa oleh para bankir Kabalis (Pemuja Setan) dalam rangka menundukkan umat manusia dengan menggunakan alat peperangan (untuk melakukan genosida), revolusi dan kehancuran sistem keuangan sebagai instrumen utama mereka.
churchilPada tahun 1920, setidaknya seorang tokoh yang bernama Winston Churchill berani untuk menulis:
"Dari zaman Spartacus-Weishaupt ke Karl Marx, hingga ke Trotsky (Rusia), Bela Kun (Hungaria), Rosa Luxemburg (Jerman), dan Emma Goldman (Amerika Serikat), konspirasi revolusioner diseluruh dunia ini berlangsung dalam rangka untuk menggulingkan peradaban dan dari atas puing-puingnya disusun kembali masyarakat berdasarkan atas kemajuan (ide okult) yang tertolak, yang bersumberkan atas iri dengki, (terhadap ajaran Ilahi) setrta kesetaraan yang tidak mungkin diwujudkan terus semakin meningkat."
penyebar-komunis-dunia
(Di Indonesia pemikiran Adam Weishaupt atau Spartacus berupa ajaran Atheis/Komunis disebarkan oleh tokoh-tokoh PKI (Partai Komunis Indonesia) a.l. seperti DN Aidit, Muso, Alimin, Tan Malaka, Semaun.-AZ)
penyebar-komunis-indonesia
Churchill nampaknya tidak tahu bahwa baik Zionisme maupun Komunisme keduanya merupakan perangkap konspirasi Luciferian, yang pada akhirnya ia pun kemudian mengabdikan diri kepadanya.
Dalam bukunya "The Decline of the West" (1918) Oswald Spengler mencatat bahwa hampir seluruh generasi dari kelas penguasa Jerman dan Inggris telah tewas dalam Perang Dunia I.
"Dengan demikian ras Anglo Saxon telah memasuki masa kemunduran yang tidak terelakkan yang memberi jalan kepada ras lain yang lebih kuat, kemungkinannya mereka yang berasal dari timur."
Semasa kebangkitan Komunisme dan migrasi besar-besaran orang Yahudi ke Amerika Serikat, banyak yang mengidentifikasikan kejadian tersebut sebagai penaklukan Yahudi.
Pada bulan Juli 1920, The Morning Post menerbitkan 18 rangkaian artikel yang mengatakan bahwa mereka telah lama ada, mereka "seperti kanker jantung dalam peradaban kita, sebuah sekte rahasia yang revolusioner, terutama yang berasal dari agama Yahudi, mereka bertekad untuk menghancurkan supremasi Kristen, mezhab dan martabatnya."
Dalam artikel pertama, seorang ahli Okult, Copin Albancelli, menyatakan bahwa "kekuatan Okult yang berada di belakang Freemasonry Revolusioner adalah pemerintahan rahasia bangsa Yahudi."
Artikel tersebut mengutip seorang Yahudi yang memeluk agama Kristen, Abbe Joseph Lehman, mengatakan bahwa adanya  "antagonisme Ibrani dalam ajaran agama Kristen telah menyebabkan orang-orang Yahudi memanfaatkan perkumpulan rahasia untuk kepentingannya." Sejak dari zaman Musa, komplotan rahasia merupakan pemelihara "kebenaran paling luhur dari agama Ibrani" dan tidak seperti rata-rata orang Yahudi lainnya yang tunduk kepada dominasi dunia.
The Morning Post kemudian menegaskan bahwa Protokol Orang-orang Bijak Zion (Protocols of the Elders of Zion) bukanlah merupakan sebuah ceritera bohong. Tujuan Yahudi adalah mendirikan "pemerintahan dunia yang akan dipimpin oleh seorang raja dari keturunan Daud."
Protokol Orang-orang Bijak Zion menghubungkan Yahudi dengan Freemasonry. Ada "Masonry dalam atau Yahudi Masonry, kekuasaan pemerintahan yang sebenarnya, dan ada Masonry dari lingkungan luar atau non-Yahudi (Goyim) yaitu yang secara membabi buta mengikuti [pengarahan dari Masonry Yahudi]
Menurut The Morning Post, Protokol  mendapatkan sanjungan dalam Revolusi Perancis: "Di atas reruntuhan aristokrasi alamiah Goyim, kami telah menetapkan aristokrasi kelas terdidik,  dipimpin oleh aristokrasi uang."
The Morning Post mengkaitkan Protokol Orang-orang Bijak Zion (Protocols of the Elders of Zion) kepada Revolusi Rusia. Hal ini diketahui dari dukungan persekongkolan kaum Yahudi Kabalis terhadap kaum sosialis, komunis dan anarkis yang berada dibawah tipu muslihat para bankir yang seolah-olah "berkeinginan kuat untuk mengabdikan dirinya kepada kelas pekerja."
Setelah merekayasa kehancuran keuangan, maka Goyim "akan dipaksa untuk menawarkan kepada kita kekuasaan internasional yang akan memungkinkan kita (Yahudi Masonry) secara bertahap menyerap semua kekuatan besar dunia dalam rangka membangun pemerintahan super."
nwo2
Nampaknya seperti Tata Dunia Baru (NWO) bukan?. Mereka yang non-Yahudi akan bekerja untuk Yahudi Kabalis yang berkuasa. Sebuah sistem pendidikan akan menghapus dari pikiran Goyim "mengenai memori mereka sebelumnya", dan "menetapkan agama Yahudi sebagai agama universal."
Tanda bahaya yang disuarakan oleh The Morning Post dikumandangkan oleh The Times of London. Pada bulan Mei 1920, Lord Northcliffe,  salah seorang pemilik The Times, mencetak artikel mengenai Protokol Zion dengan judul "The Jewish Peril, A Disturbing Pamphlet, A Call for an Enquiry." ("Bahaya Yahudi, Sebuah Pamflet yang Menggelisahkan, Ajakan untuk Penyelidikan.") Menyimpulkan:
"Sebuah penyelidikan yang tidak memihak ini akan didokumentasikan termasuk sejarah mereka yang paling diinginkan ... Apakah kita akan mengabaikan masalah ini tanpa penelitian dan membiarkan pengaruh Protokol Zion dengan tidak mencegahnya?"
Namun tanda bahaya Protokol Zion ini tidak diindahkan oleh sebagian besar manusia. Sebagaimana dijelaskan oleh Hillaire Belloc dalam bukunya The Jews (1922), bahwa Kerajaan Inggris bagian terbesarnya merupakan hasil dari sebuah aliansi antara Keuangan Yahudi dan Aristokrasi Inggris di bawah aturan Kabbalisme yaitu Freemasonry. Para Kabalis Tatanan Dunia (Baru) "Yahudi" tidak lain adalah merupakan perpanjangan dari Freemasonry.
Sebagaimana dijelaskan oleh Douglas Reed dalam A Controversy of Zion, Lord Northcliffe dinyatakan gila dan diracun pada tahun 1922. Howell Gywnne, editor dari The Morning Post bertahan hingga tahun 1937 sampai koran itu dibeli oleh sekutu Rothschild dan bergabung ke dalam The Telegraph. Dengan tipu muslihat terbaru yang disebut Perang Dunia II, keluarga Rothschilds meraup keuntungan yang sangat besar.
Kesimpulan
Dunia dewsa ini merupakan gambaran dari sebuah rencana yang telah dibuat sejak berabad-abad lalu yang dituangkan dalam Protokol Orang-orang Bijak Zion (The Protocols of the Elders of Zion.) sebagai Cetak Biru pelaksanaannya.
Demokrasi merupakan sebuah teka-teki. Kita dewasa ini dikendalikan oleh sebuah kelompok pemuja Setan. Mereka adalah para bankir Kabalis yang memiliki (mengendalikan) politisi Kiri dan Kanan.  Pendidikan membodohi kita. Media massa menipu, memecah belah dan merusak. Film yang paling populer mempertontonkan anak-anak yang saling membunuh sebagai hiburan para elit.
Kita diajarkan untuk merangkul homoseksualitas. Non-Yahudi harus dikebiri dan dipelihara.
Kita bahkan tidak dapat mengetahui bencana tanpa melihatnya dari sudut pandang "politik yang tidak benar." Hal itu membuat kita nostalgia terhadap laporan singkat yang semarak 90 tahun lalu ketika media utama masih menyebutnya sebagai isu yang paling mendesak sepanjang masa.

Sabtu, 21 Juli 2012

MENENTUKAN AWAL DAN AKHIR RAMADHAN SESUAI SUNNAH


CARA PENENTUAN AWAL DAN AKHIR RAMADHAN WAJIB DENGAN RU’YATUL HILAL BUKAN DENGAN ILMU HISAB/ASTRONOMI
Oleh : Abu ASTRI

Islam, dalam banyak ayat dan hadits, senantiasa mengumandangkan pentingnya ilmu sebagai landasan berucap dan beramal. Maka bisa dibayangkan, amal tanpa ilmu hanya akan berbuah penyimpangan. Kajian berikut berupaya menguraikan beberapa kesalahan berkait amalan di bulan Ramadhan. Kesalahan yang dipaparkan di sini memang cukup ‘fatal’. Jika didiamkan terlebih ditumbuhsuburkan, sangat mungkin akan mencabik-cabik kemurnian Islam, lebih-lebih jika itu kemudian disirami semangat fanatisme golongan.
Penggunaan Hisab Dalam Menentukan Awal Hijriyyah
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan bimbingan dalam menentukan awal bulan Hijriyyah dalam hadits-haditsnya, di antaranya:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ: لاَ تَصُوْمُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ
“Dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan Ramadhan, maka beliau mengatakan: ‘Janganlah kalian berpuasa sehingga kalian melihat hilal dan janganlah kalian berbuka (berhenti puasa dengan masuknya syawwal, -pent.) sehingga kalian melihatnya. Bila kalian tertutup oleh awan maka hitunglah’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dan hadits yang semacam ini cukup banyak, baik dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim maupun yang lain.
Kata-kata فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ (Bila kalian tertutup oleh awan maka hitunglah) menurut mayoritas ulama bermadzhab Hanbali, ini dimaksudkan untuk membedakan antara kondisi cerah dengan berawan. Sehingga didasarkannya hukum pada penglihatan hilal adalah ketika cuaca cerah, adapun mendung maka memiliki hukum yang lain.
Menurut jumhur (mayoritas) ulama, artinya: “Lihatlah awal bulan dan genapkanlah menjadi 30 (hari).”
Adapun yang menguatkan penafsiran semacam ini adalah riwayat lain yang menegaskan apa yang sesungguhnya dimaksud. Yaitu sabda Nabi yang telah lalu (maka sempurnakan jumlah menjadi 30) dan riwayat yang semakna. Yang paling utama untuk menafsirkan hadits adalah dengan hadits juga. Bahkan Ad-Daruquthni meriwayatkan (hadits) serta menshahihkannya, juga Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya dari hadits Aisyah:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ شَعْبَانَ مَا لاَ يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ ثُمَّ يَصُوْمُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ عَدَّ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا ثُمَّ صَامَ
“Dahulu Rasulullah sangat menjaga Sya’ban, tidak sebagaimana pada bulan lainnya. Kemudian beliau puasa karena ru`yah bulan Ramadhan. Jika tertutup awan, beliau menghitung (menggenapkan) 30 hari untuk selanjutnya berpuasa.” (Dinukil dari Fathul Bari karya Ibnu Hajar)
Oleh karenanya, penggunaan hisab bertentangan dengan Sunnah Nabi dan bertolak belakang dengan kemudahan yang diberikan oleh Islam.
أَتَسْتَبْدِلُوْنَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ
“Maukah kalian mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?” (Al-Baqarah: 61)
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِيْنُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ
“Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia berkata: ‘Sesungguhnya agama ini adalah mudah. Dan tidak seorangpun memberat-beratkan dalam agama ini kecuali ia yang akan terkalahkan olehnya. Maka berusahalah untuk benar, mendekatlah, gembiralah dan gunakanlah pagi dan petang serta sedikit dari waktu malam’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari, Kitabul Iman Bab Ad-Dinu Yusrun)
Sebuah pertanyaan diajukan kepada Al-Lajnah Ad-Da`imah atau Dewan
Fatwa dan Riset Ilmiah Saudi Arabia:
Apakah boleh bagi seorang muslim untuk mendasarkan penentuan awal dan akhir puasa pada hisab ilmu falak, ataukah harus dengan ru`yah (melihat) hilal?
Jawab: …Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membebani kita dalam menentukan awal bulan Qomariyah dengan sesuatu yang hanya diketahui segelintir orang, yaitu ilmu perbintangan atau hisab falak. Padahal nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah yang ada telah menjelaskan, yaitu menjadikan ru`yah hilal dan menyaksikannya sebagai tanda awal puasa kaum muslimin di bulan Ramadhan dan berbuka dengan melihat hilal Syawwal. Demikian juga dalam menetapkan Iedul Adha dan hari Arafah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“…Maka barangsiapa di antara kalian menyaksikan bulan hendaknya berpuasa.” (Al-Baqarah: 185)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ اْلأَهِلَّةِ قٌلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
“Mereka bertanya tentang hilal-hilal. Katakanlah, itu adalah waktu-waktu untuk manusia dan untuk haji.” (Al-Baqarah: 189)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَصُوْمُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِيْنَ
“Jika kalian melihatnya, maka puasalah kalian. Jika kalian melihatnya maka berbukalah kalian. Namun jika kalian terhalangi awan, sempurnakanlah menjadi 30.”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan tetapnya (awal) puasa dengan melihat hilal bulan Ramadhan dan berbuka (mengakihiri Ramadhan) dengan melihat hilal Syawwal. Sama sekali Nabi tidak mengaitkannya dengan hisab bintang-bintang dan orbitnya (termasuk rembulan, -pent.). Yang demikian ini diamalkan sejak zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para Khulafa` Ar-Rasyidin, empat imam, dan tiga kurun yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam persaksikan keutamaan dan kebaikannya.
Oleh karena itu, menetapkan bulan-bulan Qomariyyah dengan merujuk ilmu bintang dalam memulai awal dan akhir ibadah tanpa ru`yah adalah bid’ah, yang tidak mengandung kebaikan serta tidak ada landasannya dalam syariat….” (Fatwa ini ditandatangani oleh Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, Asy-Syaikh Abdullah bin Mani’, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan. Lihat Fatawa Ramadhan, 1/61)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Tentang hisab, tidak boleh beramal dengannya dan bersandar padanya.” (Fatawa Ramadhan, 1/62)
Tanya: Sebagian kaum muslimin di sejumlah negara, sengaja berpuasa tanpa menyandarkan pada ru`yah hilal dan merasa cukup dengan kalender. Apa hukumnya?
Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz menjawab: “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk (mereka berpuasa karena melihat hilal dan berbuka karena melihat hilal maka jika mereka tertutup olah awan hendaknya menyempurnakan jumlahnya menjadi 30) -Muttafaqun alaihi-
Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
“Kami adalah umat yang ummi, tidak menulis dan tidak menghitung. Bulan itu adalah demikian, demikian, dan demikian.” –beliau menggenggam ibu jarinya pada ketiga kalinya dan mengatakan–: “Bulan itu begini, begini, dan begini –serta mengisyaratkan dengan seluruh jemarinya–.”
Beliau maksudkan dengan itu bahwa bulan itu bisa 29 atau 30 (hari). Dan telah disebutkan pula dalam Shahih Al-Bukhari dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
“Puasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya. Jika kalian tertutupi awan hendaknya menyempurnakan Sya’ban menjadi 30 (hari).”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (yang artinya):
“Jangan kalian berpuasa sehingga melihat hilal atau menyempurnakan jumlah. Dan jangan kalian berbuka sehingga melihat hilal atau menyempurnakan jumlah.”
Masih banyak hadits-hadits dalam bab ini. Semuanya menunjukkan wajibnya beramal dengan ru`yah, atau menggenapkannya jika tidak memungkinkan ru`yah. Ini sekaligus menjelaskan tidak bolehnya bertumpu pada hisab dalam masalah tersebut.
Ibnu Taimiyyah1 telah menyebutkan ijma’ para ulama tentang larangan bersandar pada hisab dalam menentukan hilal-hilal. Dan inilah yang benar, tidak diragukan lagi. Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang memberi taufiq. (Fatawa Shiyam, hal. 5-6)
Pembahasan lebih rinci tentang hisab bisa dilihat kembali dalam Asy-Syariah edisi khusus Ramadhan tahun 2004.
Imsak sebelum Waktunya
Imsak artinya menahan. Yang dimaksud di sini adalah berhenti dari makan dan minum dan segala pembatal saat sahur. Kapankah sebetulnya disyariatkan berhenti, ketika adzan tanda masuknya subuh atau sebelumnya, yakni adzan pertama sebelum masuknya subuh? Karena dalam banyak hadits menunjukkan bahwa subuh memiliki dua adzan, beberapa saat sebelum masuk dan setelahnya.
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu mengatakan: “Masalah ini, di mana banyak orang (meyakini) bahwa makan di malam hari pada saat puasa diharamkan sejak adzan pertama2 (yakni sebelum masuknya waktu subuh), yang adzan ini mereka sebut dengan adzan imsak, tidak ada dasarnya dalam Al-Qur`an, As-Sunnah dan dalam satu madzhabpun dari madzhab para imam yang empat. Mereka semua justru sepakat bahwa adzan untuk imsak (menahan dari pembatal puasa) adalah adzan yang kedua yakni adzan yang dengannya masuk waktu subuh. Dengan adzan inilah diharamkan makan dan minum serta melakukan segala hal yang membatalkan puasa. Adapun adzan pertama yang kemudian disebut adzan imsak, pengistilahan semacam ini bertentangan dengan dalil Al-Qur`an dan Hadits. Adapun Al-Qur`an, maka Rabb kita berfirman –dan kalian telah dengar ayat tersebut berulang-ulang–…
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مَنَ الْفَجْرِ
“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Al-Baqarah: 187)
Ini merupakan nash yang tegas di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala membolehkan bagi orang-orang yang berpuasa yang bangun di malam hari untuk melakukan sahur. Artinya, Rabb kita membolehkan untuk makan dan mengakhirkannya hingga ada adzan yang secara syar’i dijadikan pijakan untuk bersiap-siap karena masuk waktu fajar shadiq (yakni masuknya waktu subuh, -pent.). Demikian Rabb kita menerangkan.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan makna ayat yang jelas ini dengan hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim bahwa Nabi mengatakan:
لاَ يَغُرَّنَّكُمْ أَذَانُ بِلاَلٍ فَإِنَّمَا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ
“Janganlah kalian terkecoh oleh adzan Bilal, karena Bilal adzan di waktu malam.”3
Dalam hadits yang lain selain riwayat Al-Bukhari dan Muslim:
لاَ يَغُرَّنَّكُمْ أَذَانُ بِلاَلٍ فَإِنَّمَا يُؤَذِّنُ لِيَقُوْمَ النَّائِمُ وَيَتَسَحَّرُ الْمَتَسَحِّرُ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُوْمٍ
“Janganlah kalian terkecoh oleh adzan Bilal, karena Bilal adzan untuk membangunkan yang tidur dan untuk menunaikan sahur bagi yang sahur. Maka makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum melantunkan adzan4….” (Fatawa Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 344-345)
Ibnu Hajar (salah satu ulama besar madzhab Syafi’i) dalam Fathul Bari syarah Shahih Al-Bukhari (4/199) juga mengingkari perbuatan semacam ini. Bahkan beliau menganggapnya termasuk bid’ah yang mungkar.
Oleh karenanya, wahai kaum muslimin, mari kita bersihkan amalan kita, selaraskan dengan ajaran Nabi kita, kapan lagi kita memulainya (jika tidak sekarang)? (Lihat pula Mu’jamul Bida’ hal. 57)
Di sisi lain, adapula yang melakukan sahur di tengah malam. Ini juga tidak sesuai dengan Sunnah Nabi, sekaligus bertentangan dengan maksud dari sahur itu sendiri yaitu untuk membantu orang yang berpuasa dalam menunaikannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بَكِّرُوا بِاْلإِفْطَارِ، وَأَخِّرُوا السَّحُوْرَ
“Segeralah berbuka dan akhirkan sahur.” (Shahih, lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1773)
عَنْ أَبِي عَطِيَّةَ قَالَ: قُلْتُ لِعَائِشَةَ: فِيْنَا رَجُلاَنِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَحَدُهُمَا يُعَجِّلُ اْلإِفْطَارَ وَيُؤَخِّرُ السُّحُوْرَ، وَاْلآخَرُ يُؤَخِّرُ اْلإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ السُّحُوْرَ. قَالَتْ: أَيُّهُمَا الَّذِي يُعَجِّلُ اْلإِفْطَارَ وَيُؤَخِّرُ السُّحُوْرَ؟ قُلْتُ: عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُوْدٍ. قَالَتْ: هَكَذَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ
Dari Abu ‘Athiyyah ia mengatakan: Aku katakan kepada ‘Aisyah: Ada dua orang di antara kami, salah satunya menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur, sedangkan yang lain menunda berbuka dan mempercepat sahur. ‘Aisyah mengatakan: “Siapa yang menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur?” Aku menjawab: “Abdullah bin Mas’ud.” ‘Aisyah lalu mengatakan: “Demikianlah dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya.” (HR. At-Tirmidzi, Kitabush Shiyam Bab Ma Ja`a fi Ta’jilil Ifthar, 3/82, no. 702. Beliau menyatakan: “Hadits hasan shahih.”)
At-Tirmidzi mengatakan: Hadits Zaid bin Tsabit (tentang mengakhirkan sahur, -pent.) derajatnya hasan shahih. Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq berpendapat dengannya. Mereka menyunnahkan untuk mengakhirkan sahur.” (Bab Ma Ja`a fi Ta`khiri Sahur)
Di antara kesalahan yang lain adalah:
Mengakhirkan adzan Maghrib dengan alasan kehati-hatian/ihtiyath (Mu’jamul Bida’, hal. 268)
q
Membunyikan meriam untuk memberitahukan masuknya waktu shalat, sahur, atau berbuka. Al-Imam Asy-Syathibi menganggapnya bid’ah. (Al-I’tisham, 2/103; Mu’jamul Bida’, hal. 268)
q
Bersedekah atas nama roh dari orang yang telah meninggal pada bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan. (Ahkamul Jana`iz, hal. 257, Mu’jamul Bida’, hal. 269)
q
Dan masih banyak lagi kesalahan lain, yang Insya Allah akan dibahas pada kesempatan yang lain.
Wallahu a’lam bish-shawab.
1 Lihat pula Majmu’ Fatawa (25/179)
2 Bila di masyarakat kita tandanya adalah dengan selain adzan, seperti sirine, petasan, atau yang lain yang tidak ada dasar syar’inya sama sekali.
3 Yakni sebelum masuk waktu subuh.
4 Karena Ibnu Ummi Maktum adzan setelah masuk waktu subuh.