Kamis, 29 Januari 2015

6 Prinsip Parenting Islami



Pendidikan anak adalah tanggung jawab dan amanah yang besar. Wajib bagi para orang tua untuk bertakwa kepada Allah dalam urusan anak-anak mereka. Wajib bagi para orang tua untuk memberikan pendidikan dan bimbingan. Menumbuh-kembangkan mereka dalam akidah Islam, amalan-amalan Islam, dan akhlak-akhlak Islam. Para orang tua wajib membangun pondasi ketakwaan dan keshalehan agar anak-anak mengetahui dan mengamalkan apa yang menjadi hak-hak Allah Jalla wa ‘Ala pada diri mereka.
Pendidikan anak harus tegak pada prinsip dan asas yang benar. Untuk merealisasikan tujuan yang mulia ini, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Di antara prinsip tersebut adalah:

Pertama: Senantiasa mendoakan anak.
Mendoakan ini bisa dimulai saat sang anak belum lahir, dengan meminta kepada Allah keturunan yang shaleh. Dan setelah mereka terlahir di dunia dengan mendoakan mereka hidayah dan kebaikan. Setelah mereka cenderung kepada hidayah dan kebaikan, para orang tua hendaknya mendoakan mereka agar istiqomah di jalan kebaikan tersebut. Hal ini sebagaimana doa Nabi Ibrahim:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100).
Kemudian beliau berdoa:
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
“Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35).
Dan doa beliau juga:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat.” (QS. Ibrahim: 40).
Doa Nabi Zakariya:
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38).
Dan doa ‘ibadurrahman:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 76).
Ketahuilah ma’asyiral mukminin,
Doa orang tua untuk anaknya adalah doa yang mustajab yang tidak tertolak. Hal itu telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau. Namun para orang tua juga jangan tergesa-gesa dalam doa mereka, terutama saat mereka dalam kondisi marah kepada anak. Jangan mendoakan anak dengan keburukan. Apabila doa tersebut dikabulkan, mereka akan menyesal. Allah Ta’ala berfirman,
وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا
“Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isra: 11).

Kedua: Adil di antara anak dan menjauhi sikap zhalim dan tidak adil.
Jika orang tua tida bersikap adil di antara anak mereka, maka akan terdapat rasa permusuhan, hasad, dan kebencian antara mereka. Jika mereka berbuat adil, maka keadilan tersebut akan menjadi sebab terbesar saling cinta dan kasih saying di antara mereka. Dan juga menjadi sebab baiknya perangai mereka.
Dalam Shahihain, dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu
عَنْ اَلنُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- ( فَانْطَلَقَ أَبِي إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم لِيُشْهِدَهُ عَلَى صَدَقَتِي. فَقَالَ : أَفَعَلْتَ هَذَا بِوَلَدِكَ كُلِّهِمْ? قَالَ : لَا قَالَ: اِتَّقُوا اَللَّهَ , وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ فَرَجَعَ أَبِي, فَرَدَّ تِلْكَ اَلصَّدَقَةَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ قَالَ : ( فَأَشْهِدْ عَلَى هَذَا غَيْرِي ثُمَّ قَالَ : أَيَسُرُّكَ أَنْ يَكُونُوا لَكَ فِي اَلْبِرِّ سَوَاءً? قَالَ : بَلَى قَالَ : فَلَا إِذًا )
Dari Nu’man Ibnu Basyir radhiallahu ‘anhuma, “Ayahku menghadap kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menyaksikan pemberiannya kepadaku, lalu beliau bersabda: “Apakah engkau melakukan hal ini terhadap anakmu seluruhnya?”. Ia menjawab: Tidak. Beliau bersabda: “Takutlah kepada Allah dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu.” Lalu ayahku pulang dan menarik kembali pemberian itu. (Muttafaq ‘alaihi).
Dalam riwayat Muslim beliau bersabda: “Carikan saksi lain selain diriku dalam hal ini.” Kemudian beliau bersabda: “Apakah engkau senang jika mereka (anak-anakmu) sama-sama berbakti kepadamu?”. Ia Menjawab: Ya. Beliau bersabda: “kalau begitu, jangan lakukan.”

Ketiga: Lemah lembut, kasih sayang, dan berbuat baik terhadap anak. Jauhi sifat kasar dan kaku.
Jika lemah lembut ada pada suatu hal pasti dia akan menjadikan hal itu indah. Dan tidaklah hilang dari sesuatu pasti hal itu akan menjadi rusak. Lakukan kelemah-lembutan, kasih sayang, dan perhatian terhadap anak sedari mereka kecil. lakukan hal it uterus-menerus.
Dalam Shahihain, dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menciumi cucunya Hasan bin Ali. Saat itu al-Aqra’ bin Habis duduk di dekat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Aku memiliki 10 orang anak dan aku tidak pernah mencium salah seorang dari mereka”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menatap al-Aqra’, kemudian bersabda,
مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ
“Siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak disayangi.”
Dalam Shahihhain, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Datang seorang Arab Badui menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, ‘Anda mencium anak-anak? Kami tidak pernah melakukannya’. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ
“Sungguh aku tidak mampu mencegah jika ternyata Allah telah mencabut sifat kasih sayang dari hatimu.”
Kasih sayang dan lemah lembut ini ma’asyiral mukminin, adalah sebab yang membuat anak menjadi dekat dan cinta kepada kedua orang tuanya. Apabila rasa kedekatan ini sudah ada, maka rasa cinta pun akan muncul. Sehingga orang tua bisa memberikan pengarahan, nasihat, dan pendidikan terhadap anak-anaknya. Dan anak-anak pun akan lebih mudah menerima dan memperhatikan apa yang disampaikan kedua orang tuanya.

Keempat: Orang tua memiliki semangat untuk mengarahkan anak-anaknya kepada perkara yang mulia.
Hal ini dilakukan dengan cara memberi pengajaran tentang akidah Islamiyah dan kewajiban-kewajiban agama. Kemudian melarang mereka dari yang haram serta memperingatkan mereka dari perbuatan dosa. Dan sebaik-baik nasihat seorang ayah kepada anaknya adalah nasihat Lukman al-hakim kepada anaknya. Sebuah nasihat yang Allah sebutkan di dalam Kitab-Nya di surat Lukman.
Apa yang dilakukan oleh Lukman adalah sebuah teladan yang mulia dan agung. Hendaknya kita mencontoh Lukman dalam mendidik dan mengajar anaknya. Ia mengajarkan tentang keimanan kepada Allah dan beriman pada semua yang diperintahkan-Nya. Ia mengajarkan mentauhidkan Allah Jalla wa ‘Ala dan menyerahkan agama hanya untuk-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya´qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (QS. Al-Baqarah: 132).
Dan wasiat pertama Lukman kepada anaknya,
يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah. Karena menyekutukan Allah adalah kezhaliman yang besar.” (QS. Lukman: 13).
Setelah menasihati anaknya dengan keimanan, Lukman melanjutkannya dengan nasihat agar menjaga kewajiban-kewajiban, melarang anaknya dari kemungkaran, dan memperingatkannya akan perbuatan dosa. Di antara kewajiban yang paling terdepan untuk dijaga adalah shalat.
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132).
Dalam Sunan Abu Dawud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan shalat.”

Kelima: Memperhatikan teman-teman mereka, terutama teman dekat.
Karena teman dekat yang bertemu secara intens akan mempengaruhi satu sama lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan perumpamaan yang sangat menarik mengenaik teman yang baik dan teman yang buruk. Dalam Shahihain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“Permisalan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk seperti penjual misik dan pandai besi. Adapun penjual misik, boleh jadi ia memberimu misik, engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau akan mencium bau harumnya. Adapun pandai besi, boleh jadi akan membuat bajumu terbakar atau engkau mencium bau yang tidak enak.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ
“Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Kemudian di zaman ini, ada wujud pertemanan, yang belum ada di zaman sebelumnya. Yaitu pertemanan dengan chanel-chanel televisi, internet, dan alat-alat komunikasi modern lainnya. Hal itu terdapat di dalam rumah-rumah bahkan dalam genggaman. Oleh karena itu, hendaknya para orang tua mengawasi teman-teman anak-anaknya berupa benda-benda tersebut. Karena teman dekat akan memberikan pengaruh yang besar dan bahaya yang fatal terhadap pola pikir, agama, dan akhlak. Berapa banyak pemuda-pemuda menjadi rusak gara-gara benda-benda tersebut.

Keenam: Orang tua harus menjadi teladan bagi anaknya.
Jangan orang tua menjadi seseorang yang memerintahkan anaknya kepada kebaikan, namun dia sendiri tidak melakukannya. Jangan pula melarang mereka dari kejelekan, tapi dia sendiri malah melakukannya. Yang demikian malah menjadikannya sebagai orang tua teladan dalam keburukan untuk anaknya. Yang demikian malah menjadikan seruan dan arahannya bertolak belakang. Antara perkataan dan perbuatannya berada di lembah yang berbeda.
Jika demikian halnya, anak-anak akan tumbuh besar pada didikan seorang ayah yang bertentangan perkataan dan perbuatannya. Yang berbahaya bagi karakter anaknya. Sang anak akan sangat terpengaruh dengan prilaku kedua orang tua tersebut.
Wajib bagi para orang tua yang mendidik dan mengarahkan anak-anaknya untuk merenungi terus firman Allah Tabaraka wa Ta’ala,
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab?” (QS. Al-Baqarah: 44).
Dan perkataan Nabi Syu’aib ‘alaihissalam,
وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ
“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (QS. Hud: 88).
Bersamaan dengan usaha para orang tua dengan memperhatikan hal-hal di atas, hati mereka wajib tetap bersandar kepada Allah Ta’ala. Bertawakal, menyerahkan urusan, dan beraharap hanya kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Berharap mudah-mudah Allah menjadikan anak-anak mereka anak yang shaleh dan taat. Menjaga mereka sebagaimana Dia menjaga hamba-hamba-Nya yang shaleh.

Al-Qolam Kr-Moncol

Kamis, 15 Januari 2015

5 Kisah Lucu dari Ibnul Jauzi

___________________________________


Mari tersenyum!!!
Ayah Hija berniat untuk pergi haji. Saat ayahnya hendak berangkat, Hija, yang saat itu sedang agak sentimen berkata, “Jangan lama-lama lho yah, cobalah kembali saat Id, jadi engkau bisa berkurban bersama kami.”
Seorang pencuri mengambil pintu rumah Abu Salim. Kemudian ia mencuri pintu masjid. Ada orang yang memergoki lalu berkata, “Apa yang kau lakukan?” Dia menjawab, “Sssstt… Pemilik pintu ini udah tahu kalau yang mencuri pintu saya.”
Ada seorang Badui yang tinggal di dekat sungai. Pada suatu malam, ia bermimpi “buruk” di malam yang dingin. Ia berat untuk mandi karena udaranya sangat dingin. Untuk itu, ia mencari ember untuk mengambil air hangat. Setelah dicari ternyata tidak ketemu, ia pun mengambil pakaiannya dan berenang ke sisi lain dari sungai yang dingin itu untuk mengambil ember. Akhirnya ia dapatkan embernya lalu kembali lagi lewat sungai yang dingin itu dan mengambil air hangat kemudian mandi.
Seorang lelaki tua berdiri di samping pintu masjid. Untuk menghormatinya, si muadzin langsung menawarinya untuk menjadi imam shalat. Lelaki itu menolak, maka muadzin sendirilah yang menjadi imam. Setelah selesai shalat, ia berkata kepada lelaki tua itu, “Baba, jika Anda telah memimpin shalat kami akan memberi Anda sesuatu.” Orang tua itu pun menjawab, “Bagaimana bisa aku menjadi imam, aku belum wudhu.”
Seorang individu telah mendengar bahwa puasa Asyura setara dengan berpuasa sepanjang tahun. Ia pun berpuasa selama setengah hari dan ia percaya bahwa nilainya setara dengan puasa selama enam bulan.
Seorang lelaki culun diberitahu bahwa keledainya dicuri. Ia pun malah berkata, “Terima kasih ya Allah, saat itu aku tidak naik di atasnya.”

Al-Qolam Kr-Moncol

Minggu, 05 Oktober 2014

Dokumentasi Penyembelihan Hewan Qurban 1434

______________________________________________
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah pada hari Ahad 5 Oktober 2014 Yayasan Al Ikhlas Moga-Pemalang telah mengadakan penyembelihan hewan Qurban. Hewan qurban yang disembelih sebanyak 1 ekor sapi dan 2 ekor kambing.














Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Jumat, 29 Agustus 2014

Antara Halal & Haram Ada Syubhat

___________________________________


Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ الحَلالَ بَيِّنٌ وإنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ ، وبَينَهُما أُمُورٌ مُشتَبهاتٌ ، لا يَعْلَمُهنّ كثيرٌ مِن النَّاسِ ، فَمَن اتَّقى الشُّبهاتِ استبرأ لِدينِهِ وعِرضِه ، ومَنْ وَقَعَ في الشُّبُهاتِ وَقَعَ في الحَرَامِ ، كالرَّاعي يَرعَى حَوْلَ الحِمَى يُوشِكُ أنْ يَرتَعَ فيهِ ، ألا وإنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى ، ألا وإنَّ حِمَى اللهِ محارِمُهُ ، ألا وإنَّ في الجَسَدِ مُضغَةً إذا صلَحَتْ صلَحَ الجَسَدُ كلُّه ، وإذَا فَسَدَت فسَدَ الجَسَدُ كلُّه ، ألا وهِيَ القَلبُ
“Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar (syubhat), yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barangsiapa yang menghindari syubhat itu berarti dia telah membersihkan diri untuk agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus ke dalam syubhat itu berarti dia terjerumus ke dalam perkara yang haram, seperti seorang penggembala yang menggembalakan (binatang ternaknya) di sekitar daerah terlarang, hampir-hampir dia akan masuk menggembalakan (binatang ternaknya) di daerah tersebut. Ketahuilah, bahwa setiap raja memiliki daerah terlarang. Ketahuilah bahwa daerah terlarang milik Allah adalah perkara-perkara yang haram. Ketahuilah, bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka akan menjadi baik seluruh tubuh, dan jika buruk menjadi buruklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa itu adalah hati.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas adalah salah satu hadits yang menjadi pondasi dasar agama Islam. Imam Ahmad rahimahullah pernah mengatakan, “Pondasi dasar agama Islam ada pada tiga hadits: hadits Umar (Sesungguhnya semua amalan dengan niat), hadits Aisyah (barangsiapa membuat-buat hal baru dalam urusan kami yang bukan termasuk padanya, pasti tertolak) dan hadits Nu’man bin Basyir, (Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas).”

Selasa, 08 Juli 2014

Kompetisi Sejati di Bulan Suci

------------------------------------

Jangan sampai piala dunia pada tahun ini melupakan kita untuk merebut piala akhirat di bulan Ramadhan.

PIALA adalah simbol puncak prestasi dan kebahagiaan. Orang yang mendapat piala berarti orang yang berprestasi.  Orang yang berprestasi pasti kondisi jiwanya dalam keadaan bahagia. Nah, jika ada piala dunia tentu ada piala akhirat.
Piala dunia merupakan simbol dari puncak prestasi di dunia, berupa cawan emas atau perak sebagai hadiah pemenang dalam olahraga. Khususnya olahraga sepak bola. Sedangkan piala akhirat merupakan simbol puncak prestasi amalan di dunia untuk akhirat, berupa surga Allah dengan aneka kenikmatannya.
Untuk mendapatkan piala dunia, penduduk dunia memiliki waktu sekali selama empat tahun dengan melalui seleksi dan kompetisi yang ketat antarklub sepak bola berbagai negara. Negara yang tak lolos seleksi, maka gagal ikut kompetisi piala dunia. Sebaliknya, untuk memperoleh piala akhirat Allah memberi kesempatan sama kepada manusia di bumi. Setiap manusia adalah peserta kompetisi piala akhirat itu.
Allah berfirman:
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ
“Dan setiap umat memiliki kiblatnya yang ia menghadap kepadanya. Maka berkompetisilah dalam kebaikan.” (QS Albaqarah: 148).
Ayat ini menjelaskan bahwa setiap umat atau manusia diberi kesempatan sama oleh Allah untuk berkompetisi dalam kebaikan. Siapa pun berhak merebut piala akhirat tanpa melihat rupa, harta, dan status negara.
Meskipun demikian, tentu tidak setiap peserta kompetisi kebaikan itu akan meraih piala akhirat (surga). Sebagaimana tidak semua negara yang berkompetisi dalam sepak bola dunia akan mendapatkan piala. Untuk meraih piala akhirat, syarat utama peserta dalam kompetisi kebaikan itu harus dalam kondisi beriman.
Allah berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang beramal sholeh (kebajikan), baik laki-laki maupun perempuan dalam kondisi beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS: An Nahl: 97).
Menurut sebagian ulama, yang dimaksud dengan kehidupan yang baik (hayaatan thoyyibah) pada ayat ini adalah surga Allah.
Momentum Ramadhan
Oleh sebab itu, bulan Ramadhan adalah momentum terbaik bagi kaum Muslimin untuk berkompetisi meraih piala akhirat. Ada beberapa alasan; Pertama, karena bulan Ramadhan adalah bulan yang berkah (HR Ahmad).
Berkah berarti memiliki nilah tambah atau lebih, yang tak pernah Allah berikan pada bulan lainnya. Apapun amal soleh yang dilakukan seorang Muslim di bulan Ramadhan, maka dilipatgandakan pahalanya dan langsung Allah yang membalasnya (HR Bukhari dan Muslim).
Kedua, di bulan Ramadhan pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu (HR Muslim). Hal ini merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada umat Islam, sehingga dengan itu agenda pesta spritualitas di bulan Ramadhan untuk meraih piala akhirat berjalan lebih mudah dan lancar.
Ketiga, di bulan Ramadhan ada shiyam (puasa) dan qiyam (shalat malam). Dengan melaksanakan puasa dan shalat malam (tarawih) yang didasari keimanan dan mengharapkan pahala di sisi Allah, maka dosa-dosa akan diampuni (HR Muttafaq ‘Alaihi). Kalau dosa-dosa diampuni berarti jaminan untuk mendapatkan kemudahan meraih surga yang dijanjikan.
Keempat, di bulan Ramadhan ada malam yang keutamaannya lebih baik dari 1000 bulan, yaitu malam kemuliaan (lailatul qadar). Pada malam itu penuh dengan keberkahan, kehidupan di bumi diatur, dijelaskan, dan disejahterakan hingga terbitnya fajar. Dan pada malam itu pulalah Allah telah menurunkan permulaan ayat Alquran sebagai pedoman dan petunjuk kehidupan manusia (lihat QS Al Qadar: 1-5 dan Ad Dukhan: 3-4).
Kompetisi sejati
Perhelatan piala dunia yang bersamaan dengan bulan Ramadhan tahun ini sangat berpotensi mengganggu kekhusyukan umat Islam beribadah di dalamnya. Terutama yang ‘gila’ bola. Memang tidak ada ulama atau dalil yang mengharamkan menonton sepak bola selama tidak ada unsur yang melanggar syariat agama.
Namun realitasnya, larangan syariat agama itu justru banyak dilakukan saat kompetisi sepak bola, apalagi sekelas piala dunia berlangsung. Gara-gara begadang menonton piala dunia di malam hari, akhirnya meninggalkan kewajiban shalat subuh, kesehatan badan terganggu, melalaikan tugas atau pekerjaan di siang hari, fanatik buta, dan munculnya pujian berlebihan terhadap pemain kafir. Bahkan tidak jarang terjadi perjudian, perkelahian, dan hilangnya nyawa gara-gara bola.
Oleh sebab itu, penting bagi umat Islam menyikapi piala dunia secara dewasa dan bijkasana. Jangan sampai piala dunia pada tahun ini melupakan kita untuk merebut piala akhirat di bulan Ramadhan. Euforia beramal untuk piala akhirat di bulan Ramadhan harus mengalahkan euforia menonton piala dunia.
Allah telah mengingatkan, bahwa kompetisi untuk akhirat itulah yang lebih utama; Dan sungguh, akhirat itu lebih utama bagimu dari pada dunia (QS Ad Dhuha: 4). Dalam ayat lain Allah berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ  إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu.” (QS Al Qasas: 77); Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal (QS Al A’la: 17).
Nah, tentu umat Islam peserta kompetisi piala akhirat yang bermain ‘cantik’ dan ‘professional’ selama Ramadhan—bukan malah menjadi penonton yang makan di siang hari–yang akan berpeluang menjadi pemenang. Di akhir Ramadhan para pemenang ini layak mengekspresikan kemenangannya dengan bertakbir; Allaahu Akbar! Allaahu Akbar! Semoga. Wallahu A’lam.
 --------------------------------------------------------------------------------------------
Oleh: Lidus Yardi
Guru PAI dan Sekretaris Majelis Tabligh PD Muhammadiyah Kuansing, Riau
 ------------------------------------------------
Sumber : Hidayatullah.com