Kamis, 30 Juli 2015

Al-Qur’an sebagai Sumber Syariat Islam


--------------------------------------------------------------------
Syariat Islam adalah agama Islam itu sendiri. Oleh karenanya sumber-sumber syariat Islam adalah sumber-sumber agama Islam itu sendiri, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah sumber satu-satunya ajaran Islam. Baik Al-Qur’an maupun As-Sunnah berasal dari wahyu Allah SWT, sehingga ia sempurna dan terjaga kemurniaannya.
(عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
Dari Ali bin Abi Thalib RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Aku telah meninggalkan di tengah kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya niscaya kalian tidak akan pernah tersesat. Kedua perkara itu adalah kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’ no. 3338 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 319, dengan sanad hasan)
Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan  malaikat Jibril AS. Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir dari sisi Allah SWT, kepada nabi dan rasul terakhir, untuk menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat manusia dan jin.
Sebelum Al-Qur’an ditulis dan dihafal oleh umat Islam di muka bumi, Al-Qur’an telah ditulis dan dipelihara di Al-Lauh Al-Mahfuzh, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:
“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (Al-Buruj: 21-22)
Al-Qur’an telah ditulis dan disimpan dalam sebuah kitab yang terpelihara, di atas langit yang ketujuh, di sisi Allah. Sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan; ia diturunkan dari Rabb seluruh alam.” (Al-Waqi’ah: 77-80)
Al-Qur’an telah ditulis dan disimpan dalam lembaran-lembaran yang suci dan dimuliakan, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:
“Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Allah itu adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, tersimpan di dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti.” (‘Abasa: 11-16)
Seluruh surat, ayat dan kalimat dalam Al-Qur’an adalah firman Allah SWT. Allah SWT memfirmankannya dan memperdengarkannya kepada malaikat Jibril AS, maka malaikat Jibril AS membawanya turun dan menyampaikannya kepada Rasulullah SAW sebagaimana yang ia dengarkan secara langsung dari Allah SWT. Hal itu sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:
“Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Rabbmu dengan benar…” (An-Nahl: 102)
“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Ia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (Asy-Syu’ara’: 192-195)
Rasulullah SAW menyampaikan seluruh wahyu Al-Qur’an kepada generasi sahabat sebagaimana yang beliau terima dari malaikat Jibril AS. Beliau tidak menyembunyikan satu surat pun, atau satu ayat pun, atau satu patah kata pun dari wahyu tersebut. Generasi sahabat menyampaikan wahyu Al-Qur’an tersebut kepada generasi tabi’in secara keseluruhan tanpa mengurangi, menambahi, atau merubahnya sedikit pun.
Demikian pula generasi tabi’in menyampaikan Al-Qur’an kepada generasi tabi’it tabi’in, dan akhirnya dari satu generasi muslim ke generasi muslim berikutnya menyampaikan Al-Qur’an secara sempurna; sehingga Al-Qur’an sampai kepada umat Islam hari ini, hari esok, dan seterusnya.
Sebagai penutup seluruh wahyu Allah SWT, Al-Qur’an bersifat sempurna, tidak memiliki kekurangan, kelemahan, dan kekeliruan sedikit pun. Al-Qur’an seratus persen terjamin kemurniannya dengan garansi dari Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr: 9)
Kemurnian Al-Qur’an terjaga melalui dua cara, yaitu hafalan jutaan orang yang hafal Al-Qur’an (hafizh dan hafizhah) dan tulisan dalam mushaf yang dibaca oleh umat Islam. Mushaf Al-Qur’an terdiri dari 30 juz, 114 surat, dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Naas. Demikian pula hafalan para hafizh dan hafizhah seratus persen bersesuaian dengan tulisan di dalam mushaf Al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci Allah SWT yang terpelihara kemurniannya dengan dua cara yang agung ini. Dengan terjaganya kemurnian Al-Qur’an, maka tidak ada seorang pun makhluk yang mampu menambah-nambahi, mengurang-ngurangi, atau merubah-rubah Al-Qur’an.
Setiap upaya yang dilakukan oleh tangan-tangan jahat untuk merusak Al-Qur’an berhasil dibongkar dan dipatahkan. Kemurnian Al-Qur’an akan senantiasa terjaga, sampai suatu waktu kelak menjelang hari kiamat, di saat Allah berkehendak untuk mengangkat Al-Qur’an dari muka bumi. Sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah SWT,
وَلَئِنْ شِئْنَا لَنَذْهَبَنَّ بِالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ بِهِ عَلَيْنَا وَكِيلًا (86) إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّ فَضْلَهُ كَانَ عَلَيْكَ كَبِيرًا (87)
Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembela pun terhadap Kami. Kecuali karena rahmat dari Rabb-mu. Sesungguhnya karunia-Nya atasmu adalah besar. (Al-Isra’: 86-87)
Dalam banyak ayat-Nya, Allah SWT menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah pedoman hidup satu-satunya dan hukum yang terbaik bagi seluruh makhluk-Nya. Al-Qur’an adalah segalanya bagi kita. Al-Qur’an adalah ruh (nyawa), tanpanya kita adalah mayat yang berjalan. Al-Qur’an adalah cahaya, tanpanya kita buta dalam menapaki kehidupan di dunia. Al-Qur’an adalah petunjuk, tanpanya kita hanyalah binatang ternak yang tersesat.
Sifat dan Fungsi Al-Qur’an
Nilai dan kedudukan Al-Qur’an bisa kita perhatikan dari bagaimana Allah Ta’ala mensifati Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala mensifati Al-Qur’an dengan banyak sifat keagungan, kemuliaan, keberkahan dan kebaikan.
  1. Al-Qur’an adalah al-haq [kebenaran]. Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ
“Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dari kitab suci [Al-Qur’an]ini adalah kebenaran.”  (Fathir: 31)
  1. Al-Qur’an adalah al-huda [petunjuk]. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَى عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan kepada mereka sebuah kitab suci [Al-Qur’an], yang Kami jelaskan atas dasar ilmu sebagai petunjuk dan kasih saying bagi orang-orang yang beriman.”  (Al-A’raf: 52)
  1. Al-Qur’an adalah al-ilmu [ilmu]. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
“Sekali-kali orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani tidak akan rela kepadamu sampai engkau mengikuti ajaran agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar.” Dan seandainya engkau mengikuti hawa nafsu (keinginan) mereka setelah datang ilmu [Al-Qur’an] kepadamu niscaya engkau tidak memiliki pelindung dan penolong dari sisi Allah.” (Al-Baqarah: 120)
  1. Al-Qur’an adalah al-burhan [bukti yang nyata]. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ
“Wahai seluruh manusia, telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari Rabb kalian.” (An-Nisa’: 172)
  1. Al-Qur’an adalah al-muhaimin [saksi dan pemberi keputusan]. Allah Ta’ala berfirman:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ
“Dan Kami telah menurunkan kepadamu kitab suci Al-Qur’an dengan kebenaran, ia membenarkan kandungan kitab suci sebelumnya dan ia adalah muhaimin [saksi dan pemberi keputusan tentang kemurnian atau kepalsuan isi] kitab suci sebelumnya.” (Al-Maidah: 48)
Ibnu Abbas, Ikrimah, Said bin Jubair, Mujahid bin Jabr, Muhammad bin Ka’ab, Athiyah, Qatadah, Hasan Al-Bashri, Atha’ Al-Khurasani, As-Sudi, Abdurrahman bin Zaid dan para ulama tafsir berkata: “Makna muhaimin adalah menjadi penjaga amanat bagi kitab-kitab sebelumnya.”
Ibnu Juraij berkata: “Al-Qur’an adalah penjaga amanat bagi kitab-kitab sebelumnya. Apa yang sesuai dengan Al-Qur’an adalah kebenaran dan apa yang menyelisihi Al-Qur’an adalah kebatilan.”
Ibnu Abbas, Mujahid dan As-Sudi juga berkata “Muhaimin adalah saksi.”
Ibnu Abbas juga berkata: “Muhaimin adalah pemberi keputusan (pemimpin).” (Ibnu Katsir ad-Dimasyqi, Tafsir al-Qur’an al-Karim, 3/128)
  1. Al-Qur’an adalah al-barakah [keberkahan]. Allah Ta’ala berfirman:
كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ
“[Al-Qur’an ini adalah] kitab suci yang telah Kami turunkan kepadamu, dengan penuh berkah…” (Shad: 29)
  1. Al-Qur’an adalah al-mau’izhah [nasehat]. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai seluruh umat manusia, telah datang kepada kalian nasehat dari Rabb kalian…” (Yunus: 57)
  1. Al-Qur’an adalah as-syifa’ [kesembuhan dan obat]. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai seluruh umat manusia, telah datang kepada kalian nasehat dari Rabb kalian, obat penyembuh bagi penyakit ruhani di dalam dada…” (Yunus: 57)
وَنُنزلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami telah menurunkan Al-Qur’an sebagai obat penyembuh…” (Al-Isra’: 82)
  1. Al-Qur’an adalah at-tadzkirah [peringatan]. Allah Ta’ala berfirman:
فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِينَ
“Maka mengapakah mereka dari peringatan Allah [Al-Qur’an} berpaling?”  (Al-Muddatsir: 49)
  1. Al-Qur’an adalah an-nur [cahaya]. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا
“Wahai seluruh manusia, telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari Rabb kalian dan Kami telah menurukan kepada kalian sebuah cahaya [Al-Qur’an] yang terang.” (An-Nisa’: 172)
  1. Al-Qur’an adalah ar-rahmah [kasih sayang]. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai seluruh umat manusia, telah datang kepada kalian nasehat dari Rabb kalian, obat penyembuh bagi penyakit ruhani di dalam dada, petunjuk dan kasih saying bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)
  1. Al-Qur’an adalah al-‘aziz [perkasa]. Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ
“Dan sesungguhnya ia [Al-Qur’an] benar-benar sebuah kitab suci yang perkasa.” (Fushilat: 41)
  1. Al-Qur’an adalah al-majid [agung]. Allah Ta’ala berfirman:
بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ
“Bahkan ia [Al-Qur’an] adalah [kitab suci] bacaan yang agung.” (Al-Buruj: 21)
  1. Al-Qur’an adalah al-furqan [pembeda antara kebenaran dan kebatilan]. Allah Ta’ala berfirman:
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
Maha Berkah Allah Yang telah menurunkan Al-Furqan [Al-Qur’an] kepada hamba-Nya (Muhammad) agar ia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam.” (Al-Furqan: 1)
  1. Al-Qur’an mengandung bashair [pandangan-pandangan hati yang tajam]. Allah Ta’ala berfirman:
هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Al-Qur’an ini adalah bashirah-bashirah, petunjuk, dan kasih sayang bagi kaum yang yakin.” (Al-Jatsiyah: 20)
Imam Muhammad Thahir bin Asyur At-Tunisi berkata: “Bashair adalah bentuk plural dari bashirah, yaitu kemampuan akal [hati] memahami hakekat perkara-perkara.” (Muhammad Thahir At-Tunisi, At-Tahrir wa At-Tanwir fi At-Tafsir, 25/350)
  1. Al-Qur’an adalah muhkam [kokoh dan penuh hikmah]. Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ
“Dan sesungguhnya Al-Qur’an berada di dalam kitab induk [Lauh Mahfuzh] di sisi Kami, sungguh ia bernilai tinggi dan penuh hikmah.” (Az-Zukhruf : 3)
  1. Al-Qur’an adalah mufashal [dijelaskan secara terperinci]. Allah Ta’ala berfirman:
كِتابٌ فُصِّلَتْ آياتُهُ قُرْآناً عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Al-Qur’an adalah sebuah kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan secara terperinci, sebagai sebuah kitab bacaan dalam bahasa Arab bagi kaum yang mengetahui.” (Fushilat: 3)
  1. Al-Qur’an adalah basyir dan nadzir [pemberi berita gembira dan pemberi berita ancaman]. Allah Ta’ala berfirman:
بَشِيراً وَنَذِيراً فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ
“Sebagai pemberi berita gembira [bagi kaum beriman] dan pemberi berita ancaman [bagi kaum kafir dan pelaku kemaksiatan], akan tetapi mayoritas manusia berpaling darinya sehingga mereka tidak mau mendengarkannya.” (Fushilat: 4)
  1. Al-Qur’an adalah bayan dan tibyan [penjelasan paling terang]. Allah Ta’ala berfirman:
هَذَا بَيانٌ لِلنَّاسِ وَهُدىً وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ
“[Al-Qur’an] ini adalah penjelasan bagi umat manusia, juga petunuk dan nasehat bagi orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran: 138)
وَنَزَّلْنا عَلَيْكَ الْكِتابَ تِبْياناً لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدىً وَرَحْمَةً وَبُشْرى لِلْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami telah menurunkan keapdamu Al-Kitab [Al-Qur’an] sebagai penjelasan atas segala perkara, petunjuk, kasih sayang dan kabar gembira bagi kaum muslimin.” (An-Nahl: 89)
Inilah sebagian dari sifat dan kedudukan Al-Qur’an sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT sendiri. Dengan mengetahui sifat-sifat dan kedudukan Al-Qur’an ini, kita bisa memahami betapa agung dan hebat syariat Islam. Wallahu a’lam bish-shawab.

Al-Qolam Kr-Moncol

Kamis, 29 Januari 2015

6 Prinsip Parenting Islami



Pendidikan anak adalah tanggung jawab dan amanah yang besar. Wajib bagi para orang tua untuk bertakwa kepada Allah dalam urusan anak-anak mereka. Wajib bagi para orang tua untuk memberikan pendidikan dan bimbingan. Menumbuh-kembangkan mereka dalam akidah Islam, amalan-amalan Islam, dan akhlak-akhlak Islam. Para orang tua wajib membangun pondasi ketakwaan dan keshalehan agar anak-anak mengetahui dan mengamalkan apa yang menjadi hak-hak Allah Jalla wa ‘Ala pada diri mereka.
Pendidikan anak harus tegak pada prinsip dan asas yang benar. Untuk merealisasikan tujuan yang mulia ini, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Di antara prinsip tersebut adalah:

Pertama: Senantiasa mendoakan anak.
Mendoakan ini bisa dimulai saat sang anak belum lahir, dengan meminta kepada Allah keturunan yang shaleh. Dan setelah mereka terlahir di dunia dengan mendoakan mereka hidayah dan kebaikan. Setelah mereka cenderung kepada hidayah dan kebaikan, para orang tua hendaknya mendoakan mereka agar istiqomah di jalan kebaikan tersebut. Hal ini sebagaimana doa Nabi Ibrahim:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100).
Kemudian beliau berdoa:
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
“Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35).
Dan doa beliau juga:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat.” (QS. Ibrahim: 40).
Doa Nabi Zakariya:
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38).
Dan doa ‘ibadurrahman:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 76).
Ketahuilah ma’asyiral mukminin,
Doa orang tua untuk anaknya adalah doa yang mustajab yang tidak tertolak. Hal itu telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau. Namun para orang tua juga jangan tergesa-gesa dalam doa mereka, terutama saat mereka dalam kondisi marah kepada anak. Jangan mendoakan anak dengan keburukan. Apabila doa tersebut dikabulkan, mereka akan menyesal. Allah Ta’ala berfirman,
وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا
“Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isra: 11).

Kedua: Adil di antara anak dan menjauhi sikap zhalim dan tidak adil.
Jika orang tua tida bersikap adil di antara anak mereka, maka akan terdapat rasa permusuhan, hasad, dan kebencian antara mereka. Jika mereka berbuat adil, maka keadilan tersebut akan menjadi sebab terbesar saling cinta dan kasih saying di antara mereka. Dan juga menjadi sebab baiknya perangai mereka.
Dalam Shahihain, dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu
عَنْ اَلنُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- ( فَانْطَلَقَ أَبِي إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم لِيُشْهِدَهُ عَلَى صَدَقَتِي. فَقَالَ : أَفَعَلْتَ هَذَا بِوَلَدِكَ كُلِّهِمْ? قَالَ : لَا قَالَ: اِتَّقُوا اَللَّهَ , وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ فَرَجَعَ أَبِي, فَرَدَّ تِلْكَ اَلصَّدَقَةَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ قَالَ : ( فَأَشْهِدْ عَلَى هَذَا غَيْرِي ثُمَّ قَالَ : أَيَسُرُّكَ أَنْ يَكُونُوا لَكَ فِي اَلْبِرِّ سَوَاءً? قَالَ : بَلَى قَالَ : فَلَا إِذًا )
Dari Nu’man Ibnu Basyir radhiallahu ‘anhuma, “Ayahku menghadap kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menyaksikan pemberiannya kepadaku, lalu beliau bersabda: “Apakah engkau melakukan hal ini terhadap anakmu seluruhnya?”. Ia menjawab: Tidak. Beliau bersabda: “Takutlah kepada Allah dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu.” Lalu ayahku pulang dan menarik kembali pemberian itu. (Muttafaq ‘alaihi).
Dalam riwayat Muslim beliau bersabda: “Carikan saksi lain selain diriku dalam hal ini.” Kemudian beliau bersabda: “Apakah engkau senang jika mereka (anak-anakmu) sama-sama berbakti kepadamu?”. Ia Menjawab: Ya. Beliau bersabda: “kalau begitu, jangan lakukan.”

Ketiga: Lemah lembut, kasih sayang, dan berbuat baik terhadap anak. Jauhi sifat kasar dan kaku.
Jika lemah lembut ada pada suatu hal pasti dia akan menjadikan hal itu indah. Dan tidaklah hilang dari sesuatu pasti hal itu akan menjadi rusak. Lakukan kelemah-lembutan, kasih sayang, dan perhatian terhadap anak sedari mereka kecil. lakukan hal it uterus-menerus.
Dalam Shahihain, dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menciumi cucunya Hasan bin Ali. Saat itu al-Aqra’ bin Habis duduk di dekat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Aku memiliki 10 orang anak dan aku tidak pernah mencium salah seorang dari mereka”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menatap al-Aqra’, kemudian bersabda,
مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ
“Siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak disayangi.”
Dalam Shahihhain, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Datang seorang Arab Badui menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, ‘Anda mencium anak-anak? Kami tidak pernah melakukannya’. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ
“Sungguh aku tidak mampu mencegah jika ternyata Allah telah mencabut sifat kasih sayang dari hatimu.”
Kasih sayang dan lemah lembut ini ma’asyiral mukminin, adalah sebab yang membuat anak menjadi dekat dan cinta kepada kedua orang tuanya. Apabila rasa kedekatan ini sudah ada, maka rasa cinta pun akan muncul. Sehingga orang tua bisa memberikan pengarahan, nasihat, dan pendidikan terhadap anak-anaknya. Dan anak-anak pun akan lebih mudah menerima dan memperhatikan apa yang disampaikan kedua orang tuanya.

Keempat: Orang tua memiliki semangat untuk mengarahkan anak-anaknya kepada perkara yang mulia.
Hal ini dilakukan dengan cara memberi pengajaran tentang akidah Islamiyah dan kewajiban-kewajiban agama. Kemudian melarang mereka dari yang haram serta memperingatkan mereka dari perbuatan dosa. Dan sebaik-baik nasihat seorang ayah kepada anaknya adalah nasihat Lukman al-hakim kepada anaknya. Sebuah nasihat yang Allah sebutkan di dalam Kitab-Nya di surat Lukman.
Apa yang dilakukan oleh Lukman adalah sebuah teladan yang mulia dan agung. Hendaknya kita mencontoh Lukman dalam mendidik dan mengajar anaknya. Ia mengajarkan tentang keimanan kepada Allah dan beriman pada semua yang diperintahkan-Nya. Ia mengajarkan mentauhidkan Allah Jalla wa ‘Ala dan menyerahkan agama hanya untuk-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya´qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (QS. Al-Baqarah: 132).
Dan wasiat pertama Lukman kepada anaknya,
يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah. Karena menyekutukan Allah adalah kezhaliman yang besar.” (QS. Lukman: 13).
Setelah menasihati anaknya dengan keimanan, Lukman melanjutkannya dengan nasihat agar menjaga kewajiban-kewajiban, melarang anaknya dari kemungkaran, dan memperingatkannya akan perbuatan dosa. Di antara kewajiban yang paling terdepan untuk dijaga adalah shalat.
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132).
Dalam Sunan Abu Dawud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan shalat.”

Kelima: Memperhatikan teman-teman mereka, terutama teman dekat.
Karena teman dekat yang bertemu secara intens akan mempengaruhi satu sama lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan perumpamaan yang sangat menarik mengenaik teman yang baik dan teman yang buruk. Dalam Shahihain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“Permisalan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk seperti penjual misik dan pandai besi. Adapun penjual misik, boleh jadi ia memberimu misik, engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau akan mencium bau harumnya. Adapun pandai besi, boleh jadi akan membuat bajumu terbakar atau engkau mencium bau yang tidak enak.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ
“Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Kemudian di zaman ini, ada wujud pertemanan, yang belum ada di zaman sebelumnya. Yaitu pertemanan dengan chanel-chanel televisi, internet, dan alat-alat komunikasi modern lainnya. Hal itu terdapat di dalam rumah-rumah bahkan dalam genggaman. Oleh karena itu, hendaknya para orang tua mengawasi teman-teman anak-anaknya berupa benda-benda tersebut. Karena teman dekat akan memberikan pengaruh yang besar dan bahaya yang fatal terhadap pola pikir, agama, dan akhlak. Berapa banyak pemuda-pemuda menjadi rusak gara-gara benda-benda tersebut.

Keenam: Orang tua harus menjadi teladan bagi anaknya.
Jangan orang tua menjadi seseorang yang memerintahkan anaknya kepada kebaikan, namun dia sendiri tidak melakukannya. Jangan pula melarang mereka dari kejelekan, tapi dia sendiri malah melakukannya. Yang demikian malah menjadikannya sebagai orang tua teladan dalam keburukan untuk anaknya. Yang demikian malah menjadikan seruan dan arahannya bertolak belakang. Antara perkataan dan perbuatannya berada di lembah yang berbeda.
Jika demikian halnya, anak-anak akan tumbuh besar pada didikan seorang ayah yang bertentangan perkataan dan perbuatannya. Yang berbahaya bagi karakter anaknya. Sang anak akan sangat terpengaruh dengan prilaku kedua orang tua tersebut.
Wajib bagi para orang tua yang mendidik dan mengarahkan anak-anaknya untuk merenungi terus firman Allah Tabaraka wa Ta’ala,
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab?” (QS. Al-Baqarah: 44).
Dan perkataan Nabi Syu’aib ‘alaihissalam,
وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ
“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (QS. Hud: 88).
Bersamaan dengan usaha para orang tua dengan memperhatikan hal-hal di atas, hati mereka wajib tetap bersandar kepada Allah Ta’ala. Bertawakal, menyerahkan urusan, dan beraharap hanya kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Berharap mudah-mudah Allah menjadikan anak-anak mereka anak yang shaleh dan taat. Menjaga mereka sebagaimana Dia menjaga hamba-hamba-Nya yang shaleh.

Al-Qolam Kr-Moncol